Refleksi peserta magang – penerjemahan website

1. Refleksi Anita

Dalam menerjemahkan sumber teks dari website, ternyata yang paling penting ialah bahwa terjemahan kita haruslah enak dibaca tanpa mengesampingkan kaidah bahasa dan cara penulisanya (tanda titik, koma dan huruf kapital). Kita tidak bisa menghilangkan kata-kata dan cara penulisan yang terdapat pada teks aslinya jika kata atau cara penulisan tersebut memiliki sense atau makna yang penting dalam sebuah sumber teksnya, akan tetapi alternative yang harus digunakan ialah mencari padanan kata tersebut yang memiliki makna serupa .

Hal kecil yang sering saya lupakan ketika menerjemahkan sebuah teks ialah cara penulisan menggunakan huruf kapital pada awal kalimat dan penggunaan huruf kapital pada kata sapaan, misalnya “Anda”. Hal lainya adalah  ketika saya menerjemahkan langsung pada sebuah lembaga penerjemahan, yaitu merubah cara penulisan pada sumber teksnya, misalnya dalam sumber teks tersebut menggunakan huruf kapital untuk menekankan suatu pesan atau tujuan yang ingin disampaikan oleh penulis, akan tetapi dalam menerjemahkan saya mengabaikan hal tersebut.

2. Refleksi Astriani

 Setelah mendapat masukan dari pak Sugeng, ternyata  menerjemahkan teks  website  tidak semudah seperti menerjemahkan teks-teks lainnya. Kita harus mencari kata yang pas dan sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan teks tersebut supaya menimbulkan “taste” yang sesungguhnya.

            Menerjemahkan memang tidak harus terpaku pada teks aslinya. Kita hanya menyampaikan kembali pesan yang ada dalam suatu kalimat menurut bahasa kita sendiri. Tapi menerjemah dengan kata-kata yang terlalu menyimpang dari teks merupakan hal yang fatal, seperti yang tertera pada table  baris ke-6.

3. Refleksi Bagus Prasetyo

Berdasarkan analisis hasil pekerjaan saya, saya bisa menyimpulkan bahwa untuk menjadi penerjemah yang sesungguhnya, ada empat hal penting yang belum saya miliki;

a. Keistiqomahan, dan banyaknya latihan dalam menerjemahkan, yang menimbulkan kebingungan saya dalam memilih kata, menyusunnya, dan banyak lagi.

b. Upaya mempelajari teori-teori penerjemahan lebih mendalam. Akibatnya, saya pribadi masih banyak menerjemahkan secara asal, dan tentu saja jauh dari kata professional.

c. Kemampuan untuk mengoperasikan berbagai alat untuk menerjemahkan, seperti catscraddle, SDL, dll. Efek dari hal ini adalah, saya masih sering terkagum-kagum, dan bingung ketika disodori sebuah alat penerjemah baru yang saya tidak pernah mengetahui alat itu sebelumnya.

d. Kelengkapan fasilitas, seperti kamus yang memadai, baik bahasa Indonesia, ataupun bahasa Inggris, internet, dan media-media lain yang tentunya sangat dibutuhkan dalam memaksimalkan penerjemahan. Ini menjadikan kemampuan saya dalam menerjemahkan sangat terbatas, karena selain terkadang saya tidak menemukan makna dari kata yang saya cari, kosakata saya juga terbatas oleh kata yang itu-itu saja. belum lagi ketika dihadapkan pada kata, atau kalimat yang merupakan ungkapan umum, yang saya sendiri belum paham letak keumumannya. Seperti ketika harus menerjemahkan kata “subtitling,” karena tidak tahu bahwa umumnya kata itu memang ditulis demikian, akhirnya saya menerjemahkannya menjadi “alih bahasa.”

Dari situlah, saya berharap sekali, melalui PKLI ini saya bisa belajar banyak tentang hal-hal yang berkaitan dengan itu semua. Andai memungkinkan,  juga supaya ada tambahan informasi-informasi terkait dunia kerja seorang penerjemah yang tentu tidak pernah bisa saya peroleh di kampus, selama saya mengikuti kegiatan ini.

4. Refleksi Nisa

Setelah mendapat arahan dari pak Sugeng, saya mendapat sedikit pencerahan yang tidak saya sadari sebelumnya, mulai dari tata bahasa yang baik dan benar, penulisan kata yang seharusnya dimulai dengan huruf capital, pemilihan kata yang tepat yang sesuai dengan bidang perindustrian, dan lain sebagainya. Sebagai seorang calon penerjemah yang baik, seharusnya saya menyadari akan hal-hal yang fatal yang seharusnya tidak terjadi, namun kembali lagi seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum saya ketika mereka memulai melakukan hal yang baru tentu saja menghadapi banyak persoalan sehingga membuat saya berpikir untuk tidak mengulanginya lagi dan belajar dari kesalahn ang ada, sehingga kesalahan-kesalahan itu tidak terulang kembali dan untuk selanjutnya  membuat saya lebih berhati-hati dalam bekerja. Tentu saja banyak sekali pengalaman yang saya dapat walau baru bekerja selama 2 minggu disini, dan saya merasa senang dengan mendapat ilmu baru karna model menerjemah seperti yang ada di TransBahasa belum pernah saya pelajari sebelumnya di bangku kuliah, sehingga terkadang saya harus benar-benar memanfaatkan kesempatan yang ada untuk belajar bagaiman cara menerjemah denagn baik dan sistematis.

5. Refleksi Nurul

Hari berikutnya, semakin banyak pengetahuan yang kami dapat dari Pak Sugeng, meskipun, tak jarang kami kesulitan memahami fungsi sebenarnya dari teknik-teknik tersebut. Misalnya penggunaan catscradle, mengenai glossary dan memory. Kami masih saja bingung dengan fungsi kedua sistem tersebut.

            Dari contoh penerjemahan website yang kami kerjakan, kami semakin mengerti tentang kekurangan kami. Mulai dari kurangnya keindahan bahasa, pemilihan kata, sampai dari kekompakan tim kami. Benar-benar memacu semangat kami untuk lebih belajar lagi dan juga bekerja sama.

            Menurut kami, waktu mengerjakan penerjemahan website tersebut, kami sudah bekerja sama dengan menyamakan arti dari kata-kata yang sama, namun ternyata hasilnya masih berbeda juga. Kami juga bingung. Yah, tak apalah, mungkin sebagai peringatan untuk lebih meningkatkan kerja sama kami.

            Dari banyak kekurangan kami tersebut, kami pun tidak hanya diam saja dan tidak mencoba memperbaiki. Kami selalu mencoba belajar bersama dan saling memberi tahu apa-apa yang kami tidak mengerti. Semoga kita menjadi semakin lebih baik dengan adanya kritik-kritk untuk kami.

6. Refleksi Uyun

Dari tugas ini, kesulitan yang muncul adalah mencari kata yang tepat dan menarik dari sumber teks. Selain itu, Saya masih belum bisa lepas dari struktur teks asli dalam bahasa Inggris, sehingga belum bisa menerjemahkan dengan bahasa Indonesia yang baik. sampai saat ini, Saya masih sering bingung dengan pemilihan kata-kata maupun kalimat yang tepat dalam penerjemahan. Kadang, jika menemukan kata-kata yang enak untuk dipakai ternyata Saya sering merasa bahwa kata-kata tersebut tidak sesuai dengan pesan teks.

            Selama PKLI di sini, Saya juga menemukan bahwa dalam hal kerja sama masih belum baik. Seringkali masih sedikit “ngotot” saat ada musyawarah karena kadang-kadang terlalu mempertahankan pendapat.

7. Refleksi Vani

Dari tugas ini, saya mengambil hikmah bahwa dalam menerjemahkan sesuatu kita tidak hanya diminta untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan teks sumber kepada para pembaca lewat terjemahan kita, tetapi juga kita diminta untuk tetap mempertahankan rasa dan dampak terjemahan yang kita buat sehingga serupa dengan teks sumber. Jadi dalam menerjemahkan sesuatu sebenarnya tidak hanya dibutuhkan kemampuan untuk menerjemahkan suatu teks tetapi juga seni dalam meramu teks terjemahan sehingga memiliki dampak yang serupa dengan teks sumber. Kesulitan yang masih sering saya temui adalah memahami maksud teks sumber dan mencari padanan kata yang sekiranya tidak menghilangkan rasa dan dampak yang dimiliki teks sumber, ketelitian dan ketekunan dalam menerjemahkan suatu teks juga menjadi kelemahan saya, sehingga terkadan ada beberapa kata yang luput dan tidak diterjemahkan.

            Harapan saya dalam tugas-tugas selanjutnya saya bisa menghilangkan kelemahan saya tersebut atau setidaknya meminimalisir kesalahan yang ada. Amin.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.