Explore this site …

Explore this site by clicking the relevant tab on top of this page. (Jelajahi situs ini dengan meng-klik tab di bagian atas halaman ini.)

Tabs look like this:

Terjemahan Jabberwocky: Dari Kosong Menjadi Kosong

Artikel ini mengulas bagaimana seorang ahli linguistik (Effendi Kadarisman) berupaya menerjemahkan puisi yang sebenarnya tanpa makna jika ditelisik melalui teropong semantik yang seperti biasanya. Seperti biasanya, tulisan Wawan yang sekarang sedang studi di AS ini sangat renyah dibaca. Silakan masuk lewat sini.

Refleksi peserta magang – penerjemahan website

1. Refleksi Anita

Dalam menerjemahkan sumber teks dari website, ternyata yang paling penting ialah bahwa terjemahan kita haruslah enak dibaca tanpa mengesampingkan kaidah bahasa dan cara penulisanya (tanda titik, koma dan huruf kapital). Kita tidak bisa menghilangkan kata-kata dan cara penulisan yang terdapat pada teks aslinya jika kata atau cara penulisan tersebut memiliki sense atau makna yang penting dalam sebuah sumber teksnya, akan tetapi alternative yang harus digunakan ialah mencari padanan kata tersebut yang memiliki makna serupa .

Hal kecil yang sering saya lupakan ketika menerjemahkan sebuah teks ialah cara penulisan menggunakan huruf kapital pada awal kalimat dan penggunaan huruf kapital pada kata sapaan, misalnya “Anda”. Hal lainya adalah  ketika saya menerjemahkan langsung pada sebuah lembaga penerjemahan, yaitu merubah cara penulisan pada sumber teksnya, misalnya dalam sumber teks tersebut menggunakan huruf kapital untuk menekankan suatu pesan atau tujuan yang ingin disampaikan oleh penulis, akan tetapi dalam menerjemahkan saya mengabaikan hal tersebut.

2. Refleksi Astriani

 Setelah mendapat masukan dari pak Sugeng, ternyata  menerjemahkan teks  website  tidak semudah seperti menerjemahkan teks-teks lainnya. Kita harus mencari kata yang pas dan sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan teks tersebut supaya menimbulkan “taste” yang sesungguhnya.

            Menerjemahkan memang tidak harus terpaku pada teks aslinya. Kita hanya menyampaikan kembali pesan yang ada dalam suatu kalimat menurut bahasa kita sendiri. Tapi menerjemah dengan kata-kata yang terlalu menyimpang dari teks merupakan hal yang fatal, seperti yang tertera pada table  baris ke-6.

3. Refleksi Bagus Prasetyo

Berdasarkan analisis hasil pekerjaan saya, saya bisa menyimpulkan bahwa untuk menjadi penerjemah yang sesungguhnya, ada empat hal penting yang belum saya miliki;

a. Keistiqomahan, dan banyaknya latihan dalam menerjemahkan, yang menimbulkan kebingungan saya dalam memilih kata, menyusunnya, dan banyak lagi.

b. Upaya mempelajari teori-teori penerjemahan lebih mendalam. Akibatnya, saya pribadi masih banyak menerjemahkan secara asal, dan tentu saja jauh dari kata professional.

c. Kemampuan untuk mengoperasikan berbagai alat untuk menerjemahkan, seperti catscraddle, SDL, dll. Efek dari hal ini adalah, saya masih sering terkagum-kagum, dan bingung ketika disodori sebuah alat penerjemah baru yang saya tidak pernah mengetahui alat itu sebelumnya.

d. Kelengkapan fasilitas, seperti kamus yang memadai, baik bahasa Indonesia, ataupun bahasa Inggris, internet, dan media-media lain yang tentunya sangat dibutuhkan dalam memaksimalkan penerjemahan. Ini menjadikan kemampuan saya dalam menerjemahkan sangat terbatas, karena selain terkadang saya tidak menemukan makna dari kata yang saya cari, kosakata saya juga terbatas oleh kata yang itu-itu saja. belum lagi ketika dihadapkan pada kata, atau kalimat yang merupakan ungkapan umum, yang saya sendiri belum paham letak keumumannya. Seperti ketika harus menerjemahkan kata “subtitling,” karena tidak tahu bahwa umumnya kata itu memang ditulis demikian, akhirnya saya menerjemahkannya menjadi “alih bahasa.”

Dari situlah, saya berharap sekali, melalui PKLI ini saya bisa belajar banyak tentang hal-hal yang berkaitan dengan itu semua. Andai memungkinkan,  juga supaya ada tambahan informasi-informasi terkait dunia kerja seorang penerjemah yang tentu tidak pernah bisa saya peroleh di kampus, selama saya mengikuti kegiatan ini.

4. Refleksi Nisa

Setelah mendapat arahan dari pak Sugeng, saya mendapat sedikit pencerahan yang tidak saya sadari sebelumnya, mulai dari tata bahasa yang baik dan benar, penulisan kata yang seharusnya dimulai dengan huruf capital, pemilihan kata yang tepat yang sesuai dengan bidang perindustrian, dan lain sebagainya. Sebagai seorang calon penerjemah yang baik, seharusnya saya menyadari akan hal-hal yang fatal yang seharusnya tidak terjadi, namun kembali lagi seperti yang dialami oleh orang-orang sebelum saya ketika mereka memulai melakukan hal yang baru tentu saja menghadapi banyak persoalan sehingga membuat saya berpikir untuk tidak mengulanginya lagi dan belajar dari kesalahn ang ada, sehingga kesalahan-kesalahan itu tidak terulang kembali dan untuk selanjutnya  membuat saya lebih berhati-hati dalam bekerja. Tentu saja banyak sekali pengalaman yang saya dapat walau baru bekerja selama 2 minggu disini, dan saya merasa senang dengan mendapat ilmu baru karna model menerjemah seperti yang ada di TransBahasa belum pernah saya pelajari sebelumnya di bangku kuliah, sehingga terkadang saya harus benar-benar memanfaatkan kesempatan yang ada untuk belajar bagaiman cara menerjemah denagn baik dan sistematis.

5. Refleksi Nurul

Hari berikutnya, semakin banyak pengetahuan yang kami dapat dari Pak Sugeng, meskipun, tak jarang kami kesulitan memahami fungsi sebenarnya dari teknik-teknik tersebut. Misalnya penggunaan catscradle, mengenai glossary dan memory. Kami masih saja bingung dengan fungsi kedua sistem tersebut.

            Dari contoh penerjemahan website yang kami kerjakan, kami semakin mengerti tentang kekurangan kami. Mulai dari kurangnya keindahan bahasa, pemilihan kata, sampai dari kekompakan tim kami. Benar-benar memacu semangat kami untuk lebih belajar lagi dan juga bekerja sama.

            Menurut kami, waktu mengerjakan penerjemahan website tersebut, kami sudah bekerja sama dengan menyamakan arti dari kata-kata yang sama, namun ternyata hasilnya masih berbeda juga. Kami juga bingung. Yah, tak apalah, mungkin sebagai peringatan untuk lebih meningkatkan kerja sama kami.

            Dari banyak kekurangan kami tersebut, kami pun tidak hanya diam saja dan tidak mencoba memperbaiki. Kami selalu mencoba belajar bersama dan saling memberi tahu apa-apa yang kami tidak mengerti. Semoga kita menjadi semakin lebih baik dengan adanya kritik-kritk untuk kami.

6. Refleksi Uyun

Dari tugas ini, kesulitan yang muncul adalah mencari kata yang tepat dan menarik dari sumber teks. Selain itu, Saya masih belum bisa lepas dari struktur teks asli dalam bahasa Inggris, sehingga belum bisa menerjemahkan dengan bahasa Indonesia yang baik. sampai saat ini, Saya masih sering bingung dengan pemilihan kata-kata maupun kalimat yang tepat dalam penerjemahan. Kadang, jika menemukan kata-kata yang enak untuk dipakai ternyata Saya sering merasa bahwa kata-kata tersebut tidak sesuai dengan pesan teks.

            Selama PKLI di sini, Saya juga menemukan bahwa dalam hal kerja sama masih belum baik. Seringkali masih sedikit “ngotot” saat ada musyawarah karena kadang-kadang terlalu mempertahankan pendapat.

7. Refleksi Vani

Dari tugas ini, saya mengambil hikmah bahwa dalam menerjemahkan sesuatu kita tidak hanya diminta untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan teks sumber kepada para pembaca lewat terjemahan kita, tetapi juga kita diminta untuk tetap mempertahankan rasa dan dampak terjemahan yang kita buat sehingga serupa dengan teks sumber. Jadi dalam menerjemahkan sesuatu sebenarnya tidak hanya dibutuhkan kemampuan untuk menerjemahkan suatu teks tetapi juga seni dalam meramu teks terjemahan sehingga memiliki dampak yang serupa dengan teks sumber. Kesulitan yang masih sering saya temui adalah memahami maksud teks sumber dan mencari padanan kata yang sekiranya tidak menghilangkan rasa dan dampak yang dimiliki teks sumber, ketelitian dan ketekunan dalam menerjemahkan suatu teks juga menjadi kelemahan saya, sehingga terkadan ada beberapa kata yang luput dan tidak diterjemahkan.

            Harapan saya dalam tugas-tugas selanjutnya saya bisa menghilangkan kelemahan saya tersebut atau setidaknya meminimalisir kesalahan yang ada. Amin.

Refleksi peserta magang penerjemahan UIN Maliki Malang

Seperti biasanya, tahun ini TransBahasa menerima tujuh mahasiswa UIN Maliki Malang untuk magang selama kurang lebih dua bulan. Setelah melewati dua minggu pertama di TransBahasa, mereka melakukan refleksi. Seperti inilah refleksi singkat mereka:

1. Refleksi Muharnisa

Selama saya mempelajari translation di kampus, mulai tranlation 1, 2, dan 3 saya menjadi sedikit lebih paham tentang bagaimana cara menerjemah dengan baik, menjadi tahu teori apa saja yang harus digunakan dalam menerjemah. Akan tetapi kendala saya disini, ketika saya menerjemah suatu teks atau tulisan saya sering kali bingung dalam memilih kata yang tepat untuk dimasukkan dalam terjemahan teks yang terkait, keterbatsan itulah yang membuat saya kesulitan dalam menyusun bahasa yang baik. Terkait dengan pembelajaran kami hanya diajarkan mengenai artikel-artikel pendek, buku motivasi dan sebagainya. Saya sangat mengharapkan dengan adanya PKLI ini dapat membantu saya untuk bisa mempelajari ilmu penerjemahan secara mendalam lagi.

2. Refleksi  Anita Nur Chususiya

“Dalam memilih profesi penerjemahan saya telah mendapatkan teori mulai dari Transaltion 1, 2 dan 3. dalam mendapatkan teori tersebut saya tidak merasa kesulitan dalam mempraktekkan penerjemahan selama kuliah, karena saya hanya menerjemahkan beberapa paragraph dari sebuah kalimata dengan menggunakan teori-teori yang sudah didapat. Namun ketika saya harus menterjemahkan teks yang lebih banyak dan mencakup hal yang luas, saya mulai menemukan kesulitan. Karena sebagian teori yang saya dapat ada yang keliru, seperti menghilangkan tanda petik ketika kita menulisnya dalam bahasa kedua. Background ilmu pengetahuan atau wawasan sangat diperlukan ketika kita harus menterjemahkan teks, tidak hanya bermodal dengan mantuan sebuah kamus.”

3. Refleksi Uyun

Sebelumya, selama mata kuliah translation Saya selalu mengartikan setiap teks berdasarkan struktur asli Bahasa Inggris dan kurang bisa dipahami karena kurang meng-Indonesia. Saya masih terpaku pada struktur Bahasa Inggris-nya. Meskipun sekarang lebih bisa sedikit keluar dari gaya bahasa Inggris, akan tetapi masih kesusahan untuk mencari kata-kata dan gaya bahasa yang tepat dalam bahasa Indonesia.

4. Refleksi Nur Astriani

  • Dibutuhkan banyak kesabaran dalam memilah head dan modifier sebuah kalimat panjang. 
  • Ada beberapa kata yang tidak saya temukan dalam kamus.
  • Translating is a boring but challenging activity.

5. Refleksi Vani

Sejak belajar penerjemahan di kampus, saya menemukan banyak hal baru yang sebelumnya tidak saya temukan pada mata kuliah lain. Misalnya, sebelum mempelajari penerjemahan saya hanya mengartikan sebuah teks secara tekstual, yang mungkin hanya bisa saya pahami tetapi membingungkan bagi orang lain. Sejak mengenal ilmu penerjemahan saya menjadi tahu kalau menerjemahkan suatu teks tidak hanya sekedar membuat orang mengerti isi teks tersebut tetapi juga tidak menghilangkan maksud dan pesan yang terkandung dalam teks tersebut. Semula saya merasa kesulitan karena saat mempelajari mata kuliah translation saya dicekoki dengan bermacam teori yang sampai sekarang pun tidak saya hafal karena saya orang yang pelupa, mulanya ketika menerjemahkan sesuatu saya terpaku pada teori tersebut dan akhirnya hasil terjemahan saya cenderung kaku dan pesan yang terkandung pada teks tidak sampai pada pembaca. Tetapi sejak advance translation 1 , 2 dan 3, saya menemukan sesuatu yang baru yaitu proses “learning by doing”, saya banyak mendapat tugas penerjemahan yang membuat saya mengenal bidang-bidang baru dan belajar hal-hal baru dalam menerjemahkan. Setiap menemukan teks baru untuk diterjemahkan saya juga menemukan kesulitan baru yang nantinya saya akan mendapatkan solusi untuk saya terapkan pada penerjemahan selanjutnya. Sejak itupun saya mulai mempelajari banyak model penerjemahan dari novel-novel terjemahan, dari situ pula saya tahu kalau setiap penerjemah memiliki gaya bahasanya masing-masing yang terkadang saya “contek” ketika menerjemahkan sesuatu, dari situ juga saya belajar kalau menerjemahkan sesuatu tidak harus terpaku pada teks sumber, sedikit improvisasi tetapi tetap tidak menghilangkan pesan yang terkandung dalam sebuah teks akan membuat hasil penerjemahan terlihat semakin enak untuk dibaca. Tetapi sampai kini saya belum sampai pada tahap tersebut, karena saya masih kesulitan menemukan ungkapan bahasa yang tepat untuk menerjemahkan teks agar tidak menghilangkan nilai yang terkandung di dalamnya, terkadang saya juga kurang teliti karena bagaimanapun setiap kata yang terdapat pada teks sumber memiliki makna masing-masing yang tidak dapat dihilangkan begitu saja. Dan saya berharap pada proses PKLI ini saya akan belajar banyak hal baru yang dapat mengajari saya banyak hal terutama dalam hal penerjemahan, karena sampai kini saya merasa belum pantas untuk disebut sebagai penerjemah karena masih ada banyak hal yang belum saya pelajari.

6. Refleksi Bagus Prasetyo

Materi terjemahan di bangku kuliah, yang selama ini saya ikuti ternyata sangat terbatas wilayahnya, begitu saya melihat langsung dunia kerja para penerjemah di Trans Bahasa selama mengikuti PKLI ini. Di kampus, saya kurang memperoleh gambaran tentang luasnya dunia kerja bagi penerjemah, kurang mendapatkan teori penerjemahan yang valid, bahkan jarang pula mendapatkan contoh menerjemahkan yang bagus, sampai saya tidak memahami betapa dunia penerjemahan ternyata merupakan sebuah dunia yang menantang dan menjanjikan. Lebih fatal lagi, hal demikian menjadikan kurangnya semangat saya untuk menjadi seorang penerjemah. Mengkuti PKLI, saya merasakan adanya dua kutub berseberangan yang terbesit di benak saya;

  1. Pesimis; perasaan ini muncul karena saya merasa betapa untuk menjadi seorang ahli penerjemah yang sebenarnya, ternyata masih membutuhkan jalan yang sangat-sangat panjang. Apalagi ketika melihat sosok bapak Sugeng, dan para penerjemah di Trans Bahasa yang keilmuannya terasa sangat tidak mungkin untuk saya jangkau dengan mudah. Sepertinya, bahasa Inggris yang saya pelajari sejauh ini, tidak berarti apa-apa di hadapan beliau-beliau.
  2. Optimis; meskipun pada satu sisi saya merasakan betapa beratnya perjuangan menjadi seorang penerjemah, tapi ada satu nuansa tersendiri yang hinggap dan menghias hati saya setiap kali harus berhadapan dengan teks-teks berbahasa Inggris dengan berpuluh, bahkan beratus-ratus tantangan di dalamnya. Gemas, jengkel, tapi juga seru. Semua itu menyatu, yang kemudian menimbulkan keasyikan tersendiri dalam menekuni dunia penerjemahan. Membuat lahirnya keyakinan bahwa dunia penerjemahan tidak sesulit yang dibayangkan. Lebih-lebih ketika saya harus bermain dengan pilihan kata yang tepat. Seolah, saya tengah dilatih secara tidak langsung oleh kalimat-kalimat bahasa Inggris yang saya terjemahkan untuk menjadi ahli bahasa yang mumpuni.

Harapan saya, dalam PKLI ini, kami lebih banyak dibimbing, baik melalui diskusi-dikusi atau kuliah singkat, maupun tugas-tugas yang memacu semangat kami dalam mengasah kemampuan kami sebagai calon penerjemah, atau juga tentang trik-trik penerjemahan yang tidak kami ketahui, sehingga tidak terpikirkan untuk kami tanyakan. Semoga, bapak Sugeng, dan para kru Trans Bahasa bisa sabar, dan tidak bosan membimbing kami. Amin.

7. Refleksi Nurul

Selama belajar penerjemahan di kampus maupun di tempat PKLI, saya merasa beruntung sekali karena selama ini saya sangat kesulitan dengan yang namanya Bahasa Inggris. Jelas sekali karena memang jurusan Bahasa Inggris bukanlah tujuan saya, yah… karena sedikit konflik dengan orang tua, akhirnya ya seperti ini. Dengan kata lain, saya melakukannya dengan terpaksa. Sehingga semua pengalaman maupun nilai selama kuliah hanyalah sebagai bunga hidup (kalau mimipi adalah bunga tidur), yang “hanya Allah Yang Tahu” karena memang saya juga kurang tahu.             Namun, baru semester akhir ini saya merasa sangat berdosa kepada diri saya sendiri juga kepada orang tua, karena itu saya benar-benar belajar penerjemahan meskipun dengan pengalaman yang seadanya, tapi saya bertekat untuk menekuninya.             Proses belajar menerjemahkan yang ada di kampus awalnya tidak begitu saya hiraukan, namun setelah terjun di tempatnya langsung yakni PKLI di tempat Pak Sugeng, saya mengerti bahwa saya benar-benar kurang berpengalaman. Sebagai contoh ketika kami ditugaskan untuk menerjemah artikel, khususnya saya, sangat kurang bisa memahami apa maksud dari teks tersebut serta kurangnya kosakata yang saya miliki, sehingga penerjemahannya pun belepotan tidak karuan.             Saran dan kritik dari Pak Sugeng benar-benar memicu saya untuk terus mendalami penerjemahan dan membuat saya harus banyak belajar lagi. Saya mulai membaca lagi segala macam buku, saya awali dari novel, kumpulan puisi, sampai buku tafsir Qur’an yang ada di rak buku saya. Saya ingin memperkaya pengetahuan dan diksi yang bisa mempermudah saya dalam menerjemah.             Kekurangan saya dan mungkin teman-teman satu kelompok adalah kurangnya kerja sama dalam tim sehingga nampak sekali ke”individu”an kami. Namun, sekarang ini kami mulai banyak berdiskusi dan sharing tentang permasalahan dalam menerjemah, dan juga mencoba bertanya kepada Pak Sugeng dan para tutor lain tentang ketidaktahuan kami.             Sebagai seorang yang masih belajar, saya mengharapkan banyak kritikan dan sedikit pujian sehingga saya tidak pernah merasa angkuh atau cepat puas yang membuat saya menyepelekan tugas-tugas saya. Benar-benar merupakan tekanan batin ketika awal-awal mengerjakan tugas, tapi ternyata sekarang saya sudah mendapatkan pujian. :-)  ==

The Implication of Culture on Translation Theory and Practice

This article discusses the implication of culture on translation theory, especially how the translation strategy employed to handle culturally bound words and expressions. Click here to reach the articles from the list of other articles.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.